ANALISIS HADIS TEMPAT YANG DICINTAI DAN DIBENCI ALLAH DALAM KITAB SHAHIH IBNU HIBBAN
DOI:
https://doi.org/10.33507/el-mujam.v4i2.2507Kata Kunci:
Kata kunci: Hadis, Takhrij, Ibnu Hibban,Abstrak
Kajian hadis membutuhkan persyaratan metodologis hadis yang terkesan sangat rumit, dikarenakan pemahaman hadis harus melewati dua fase, yaitu fase penelitian orisinilitas terhadap hadis tersebut dan fase analisa isi (matan) hadis. Dalam pembahasan ini, hadis yang akan dianalisi adalah hadis tentang Negara yang dicintai Allah ialah masjidnya dan Negara yang dibenci ialah pasarnya, yang dikutip dari kitab Shahih Ibnu Hibban karangan Imam Ibnu Hibban. Diantara para ulama yang tergolong sebagai perawi mutasahil salah satunya ialah Ibnu Hibban. Pada hakikatnya masjid itu mulia bukan sebab secara dzat ia mulia, melainkan karena perilaku kebajikan manusia didalamnya seperti dzikir, membaca al-Qur’an, shalawat, serta majelis ilmu. Kesimpulannya hadis kedua tempat yang dicintai dan dibenci Allah adalah, Allah membenci pasar karena keburukan yang dilakukan oleh manusia didalamnya, baik dari segi perniagaan ataupun komunikasi antar sesama. Tidak ada yang salah dengan aktivitas yang ada dipasar selama kita bisa menjaga diri dari Tindakan yang dapat merugikan sesama atau bahkan hal-hal yang dapat melalaikan kita dari Allah. Melalui analisis Takhrij Hadist kita dapatkan bahwa derajat hadist yang telah dibahas adalah shahih, tidak ada syad ataupun ‘illah pada matan, derajat perawi yang sebagian besar tsiqqah menguatkan hadist ini sehingga dapat disimpulkan bahwa hadist ini shahih dan dapat diterima. Hadist ini termasuk ke dalam hadist marfu’ karena disandarkan langsung kepada Rasulullah SAW, dan merupakan hadist qauli atau perkataan Nabi pada seorang sahabat, yaitu Abu Hurairah, tidak ada syawahid dalam jalur periwayatan hadist ini karena Rasulullah SAW. Hanya menyampaikan kepada Abu Hurairah.





1.png)


