Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan tentang simpul pemikiran Cak Nur yaitu
monoteisme radikal dan kemordernan. Variannya antara lain gagasan tentang
sekularisasi serta inklusivisme dan universalisme Islam. Sekularisasi versi Cak
Nur adalah menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi dan
melepaskan umat Islam dari kecenderungan mengakhiratkannya.
Cak Nur menawarkan sebuah pandangan yaitu memelihara nilai lama
yang baik, menggali nilai baru yang lebih baik. Akan tetapi dia mengatakan
bahwa kita harus waspada. Kita tidak bisa mengharapkan seseorang yang tidak
mengimani agama kita mampu menampilkan Islam tanpa bias. Jangankan
yang tidak beriman, orang yang beriman saja masih bisa salah, buktinya Abduh
mengkritik berbagai kitab tafsir lama.
Sejak tahun 70-an sampai sekarang, Cak Nur sudah melakukan usaha-usaha
yang menggoncangkan tradisi yang otoritarian, dengan cara mengemukakan
pikiran-pikiran yang oleh orang lain dipandang aneh, nyleneh, edan dan
sebagainya. Seperti isu sekularisasi, yang berusaha mendevaluasi kesakralan
yang lain selain Allah, penerjemahan Allah dengan Tuhan yang berusaha
mempribumikan konsep Allah dalam konteks keindonesiaan, dan sekarang
pengertian Islam yang dia aplikasikan secara lebih luas sehingga meliputi
“Abrahamic millat” yang hanif itu. Usaha-usaha reinterpretasi terhadap hal-hal
yang sudah baku tersebut harus dipandang sebagai pembatasan tradisi yang
diharapkan dapat meratakan jalan bagi usaha pembeharuannya.