Abstract

Dalam masyarakat Jawa terdapat kepercayaan bahwa ketika terdapat sepasang
orang yaitu pria dan wanita dewasa melakukan pernikahan pada tahun yang
tidak memiliki pasangan pasaran dalam siklus satu windu kalender jawa, akan
mengakibatkan perceraian. Karena ada akibat perceraian maka tahun-tahun
ini dikenal dengan sebutan Tahun Duda. Tahun duda dianggap sumber masalah
retaknya sebuah hubungan pernikahan. Mereka sering sekali menghubungkan
ketidakharmonisan rumah tangga yang mereka alami adalah dikarenakan
kutukan tahun duda yang sudah menjadi akar kepercayaan.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research),
artinya data yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah fakta-fakta
di lapangan.1 Dalam hal ini yaitu data-data tentang pencatatan pernikahan,
Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati yang menerima laporan
pencatatan pernikahan secara reguler setiap bulannya dari Kantor Urusan
Agama (KUA) setempat yang dibawahinya. Sehingga peneliti akan mendapatkan
keseluruhan informasi data pencatatan pernikahan di Kabupaten Pati. Adapun
teknik pengumpulan data menggunakan telaah dokumentasi dari catatan
pernikahan ditahun duda dan tahun biasa
Penelitian bersifat deskriptif analitik, yaitu penyelidikan yang menuturkan,
menganalisa dan mengklasifikasikan data secara kualitatif. Metode deskriptif
analisis itu dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diteliti
berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.2 Untuk itu dalam


penelitian ini, dimaksudkan untuk menjelaskan mitos tahun duda dari catatan
pernikahan di kabupaten Pati.
Dalam menganalisa data akan dilakukan secara kualitatif dengan
menggunakan instrument analisis induktif dan interpretatif.3 Cara berpikir
induktif dan interpretatif ini, digunakan dalam rangka membangun konsepsi
interpretasi mengenai mitos tahun duda dari catatan pernikahan di Kabupaten
Pati.
Dari hasil data yang diperoleh menyimpulkan bahwa catatan pernikahan
yang ada di kabupaten Pati pada tahun duda ternyata masyarakat masih
mempercayai bahwa tahun duda merupakan tahun yang membawa balak oleh
karena itu harus dihindari.
Tahun duda dalam perspektif hukum Islam menggunakan metode ‘urf,
ada dua macam yaitu ‘urf shahih dan ‘urf fasid. Jika ada larangan melakukan
pernikahan pada Tahun Duda dilihat dari metode itu, maka adat tersebut
dianggap ‘urf fasid. Karena adat melarang menikah di tahun duda bukan
untuk kemaslahatan akan tetapi menimbulkan mafsadhat bagi masyarakat
khususnya masyarakat kapupaten Pati.